All posts by mlukmanardi31

A dreamer who believes his dreams come true. Public Relation, Travel Addict.

Dreams…

Dreams

When your dream failed then you must be move with smile for the world

Advertisements

First Night di Ho Chi Minh City

Setibanya di apartemen aku langsung menyimpan barang bawaan dan segera ku temui Trang dan Linh yang menunggu di luar. Memang ternyata mereka masih menungguku.

Mereka sedang asik mengobrol dan meneguk minuman tradisional vietnam. Linh menyodorkan satu gelas padaku. Rasanya agak aneh dimulutku. Ku lihat beberapa tongkat seperti kayu, oh ternyata itu tebu manis dan sedikit jeruk nipis yang menjadi bahan utama minuman ini.

Agak susah berinteraksi dengan Linh. Seringkali kami menggunakan google translate. Ku lihat usahanya ingin sekali bisa bahasa inggris dan bekomunikasi dengan ku. Padahal aku pun tidak terlalu fasih dalam berbahasa inggris. Sedangkan, Trang kini dia sudah berani berbicara menggunakan bahasa Inggris dibanding saat kami berjumpa ketika di Bandung tahun lalu.

Kemudian kami pergi mencari makan, aku baru menyadari kalau dari keberangkatan dari Malaysia aku belum makan. Trang dan Linh membawaku ke suatu resto kecil yang menjual Pho, makanan Pho ini memang menjamur, mungkin kalau di Indonesia seperti resto Mie Ayam Bakso. Tapi Pho ini seperti soup ditambah ada irisan daging kemudian didalamnya ada mie dan beberapa sayuran. Kesan pertamaku, seperti biasa aneh di lidahku tapi ternyata enak banget apalagi kuahnya. Aku tidak memikirkan halal atau tidak, tapi saat itu aku benar-benar lapar dan butuh asupan energi.

Kali ini Trang mentraktir ku. Lalu, Trang bertanya padaku

“Where do you want to go now?”

Aku bingung, jujur aku tidak mempunyai plan. Akhirnya aku meminta Trang mengantarku ke minimarket ada beberapa barang dan cemilan yang ingin kubeli. Susah banget mencari minimarker dan letaknya jauh dari apartemen tempat aku menginap. Aku baru mengetahui bahwa letak pusat kota jauh dengan penginapanku. Tapi sudahlah aku terima karena telanjur booking disini.

Ku keluar dengan senyum dan belanjaan ditangan kanan kiri ku, Trang dan Linh telah menunggu. Lalu mereka mengajakku ke downtown. Wah! Ini seperti alun-alun di kota ku dalam hatiku. Yang membedakan ialah berdiri megahnya Gereja yang dengan gaya khas eropa, Notre-Dame Cathedral Basilica of Saigon yang didirikan di abad ke-19. Gereja ini dikenal juga dengan ‘Pink Church’ karena warna batu bata yang tampak kemerahan saat siang hari. Kemudian terdapat patung besar Bunda Maria di tengahnya.

Selepas puas berfoto depan Pink Church, kami lanjutkan trip malam ini mengunjungi sebuah gedung yang besar, Ho Chi Minh City Museun. Sayang karena hari sudah malam kami tidak bisa masuk kedalam, hal hasil kami hanya berfoto depan gerbangnya.

Tidak puas sampai disana, Trang dan Linh mengajakku ke Book Street. Jalanan yang menjual berbagai buku dengan harga yang bersahabat, karena yang dijual memang buku-buku second hand. Aku mencoba menikmati dengan melihat dan membuka halaman-halaman buku, sayang aku tidak memahami arti dari tulisannya. Kulihat buku dengan judul Harry Potter, wah! Pasti ini dalam bahasa Inggris, setelah ku buka halaman tengah ternyata ini terjemahan dalam bahasa vietnam dan langsung ke tutup. Sepanjang jalan ini penuh dengan toko dan booth yang menjual berbagai jenis buku.

Kemudian kami berjalan menulusuri trotoar. Ku temukan tulisan vietnam disebuah tembok, entah apa artinya aku meminta Trang mengambil foto untukku. Yah, lumayanlah sebagai kenangan kalau aku pernah mengunjungi Vietnam. Lanjut, mereka mengantarku ke penginapan, kami pun berpamitan. Aku lupa untuk mengatakan terimakasih pada mereka, tapi aku harap kami dapat berjumpa kembali di hari berikutnya. Baiklah, momen itu menutup perjalanan malam pertama ku di Vietnam. Hari ini sangat melalahkan tapi berkesan.

Pertemuan Adik – Kakak di Vietnam

Singkat cerita 1 Juli 2017, aku mendarat di Bandara Tan Son Nhat, Vietnam. Bandara ini tampak kecil, antrian di imigrasi tak terlalu menjalar. Tapi rasa cemas ini masih menyelimuti, tak bukan karena ini pertama kali untukku pergi ke Vietnam. Bayang-bayang deportasi selalu ada dalam pikiran ku ini.

Dokumen-dokumen telah ku siapkan jikalau pihak imigrasi menanyakan. Akhirnya giliran ku tiba. Perempuan itu tak senyum sedikit pun, jantungku kali ini berdebar tak biasanya.

“How long you stay in Vietnam” tanya perempuan berseragam itu.

“Five days, miss” jawab ku

“Ok! Enjoy in Vietnam” balasnya

Tiba-tiba aku sadar, aku telah berbohong padahal diriku akan tinggal seminggu di Vietnam. Kekhawatiran ini kambuh dan apakah aku akan dideportasi? Tapi sepertinya aku ingat, jika WNI dapat free visa selama 30 hari di Vietnam. Huft, lagi-lagi aku selalu cemas dan kenapa juga aku harus berbohong. Tuhan, maafkan aku!

Paspor hijau itu sekarang kembali padaku. Saatnya aku mencari koper hitam yang kubeli di pasar baru Bandung itu. Aku bingung dimana tempat pengambilan koper. Aku juga takut jika koper ku hilang. Lalu kuberanikan bertanya pada security dengan bahasa inggris seadanya dan ternyata dia tidak mengerti apa yang kutanyakan. Oh, Tuhan tolong aku.

Kali ini kutanyakan ke staf perempuan bandara. Dia baik dan mengarahkan langsung dimana tempat pengambilan koper. Oh aku baru tahu ternyata tempatnya berdasarkan nama dan nomor maskapai penerbangan. Ku dapatkan koper hitam yang beratnya 23kg waktu itu.

Karena lelah dan berat kuputuskan menggunakan troly. Kamu bisa bayangkan dua hari sebelumnya aku harus menggerek koper dari jalanan KLCC ke Jalanan Bukit Bintang di Kuala Lumpur Malaysia, lalu mengangkatnya ke lantai 4 penginapan, cerita lengkapnya ada disini.

Aku melangkah keluar dari bandara itu. Ternyata di luar pintu keluar dan masuk begitu ramai. Banyak masyarakat sana akan mengantarkan keluarganya atau menunggu sanak saudaranya yang pulang dari melancong. Kemudian ku cari Trang, sahabat karibku asli Vietnam. Tapi susah bagiku menemukannya, wajah mereka terlihat sama. Kucoba mencari wifi tapi gawai ku ini tak dapat terhubung, rasanya ingin ku lempar gawai ku saat itu. Akhirnya kubeli provider lokal yang harga pasti mahal jika beli di Bandara. Lalu, gawai ku ini sudah terhubung internet, langsung kuhubungi Trang. Dia mengangkat dan

“Trangggg!” Teriaknya

“Luluuuu!” Teriakku bahagia.

Kami berpelukan bak teletubie. Kami seperti saudara yang sudah lama tidak bertemu. Bagiku Trang sudah kuanggap seperti kakak dan baginya aku adiknya, meskipun beberda kewarganegaraan tapi kami sangat tahu sama lain. Kami dulu ditemukan di suatu project organisasi internasional di Bandung. Aku mengenalinya sebagai pribadi yang pemalu dan ramah, hampir sama dengan ku.

Trang bersama dengan temannya Linh. Aku agak kesulitan saat melafalkan namanya mungkin belum terbiasa. Mereka menuntunku ke parkiran motor. Aku hanya menganga saat kulihat banyaknya motor yang ada di area parkir itu dan lucu bagiku ketika ku lihat helm yang mereka gunakan tanpa kaca penutup wajah, wah ini kalau di Indonesia sudah ditilang dalam hatiku. Yah, hampir semua helm penduduk Vietnam sepertinya itu.

Linh membantuku dan bersedia menumpangi koper beratku di motornya, dia terpaksa harus menjepit koper itu dengan kedua kakinya di bagian depan motor (aku harap kalian bisa membayangkannya, susah bagiku untuk menjabarkannya hehe). Aku merasa kasihan padanya sekaligus terharu akan kebaikannya.

Sedangkan, Trang menjadi driver dadakan untuk ku. Lalu, dia memberikan masker penutup mulut karena memang udara di Saigon cukup tidak bersahabat bagi kesehatan dengan tingginya angka kendaraan disini, terutama motor tutut Bu Guru Matematika ini.

Kami pun menuju ke sebuah Apartemen tempat aku akan menginap selama beberapa hari di Saigon. Aku masih belum percaya dan aku tidak pernah bermimpi jika aku akan sampai disini. Kami melaju menembus kemacetan ibukota yang sekarang yang telah berganti nama dari Saigon menjadi Ho Chi Minh City.

Sesal

Hey!
Kamu masih ingat?
Dulu di persimpangan jalan itu
Mentari redup tiba masanya
Langkah kita berhenti
Ku berikan mawar hitam
Kamu heran akan maknanya

Perlahan kamu tahu
Tampak mutiaramu retak
Ku dengar jeritan jiwamu
Ku sentuh hatimu pudar
Padaku yang membuatmu terluka
Maafkan si ego ini
Yang buta akan perasaan mu

Kadang ku sesali
Akan tingkah ku yang bodoh itu
Kini rasa ini kembali muncul
Malam sunyi sampaikan padanya
Segenggam maaf dan rindu ku
Untuk mu sang Mantan
Yang dulu warnai hidupku

(Lulu, 2018, page: 6 – 6/2)

Jiwa Yang Tersesat

Joni terbelengu akan logikanya

Hidup bimbang bak gasing

Mata angin tak bisa membantu

Menujukan jalan yang sesungguhnya

Pelangi malam tergores di jiwanya

Dosa dosa yang terus mengalir

Tak mampu dia sesali

Mungkin butuh waktu tuk merenung

Masa kian bergulir cepat

Perlahan alam tahu rahasia itu

Beda yang dia rasakan

Kenapa harus terjadi padanya?

Bila ini karma semesta

Dewa, tunjukan cahaya itu

Beri harapan dan kesempatan

Bagi jiwa yang tersesat ini

(Lulu, 2018, page: 4-22/3)